Foto ; Aminullah Nollah, pegiat sosial tinggal di kota Sumenep.
Prorakyatonline.id Sumenep
Kegelisahan Masyarakat Kab. Sumenep, sejak pemerintahan Bupati Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, SH, MH menuai polemik dikalangan pegiat sosial dan aktifis.
Banyaknya pengangguran dan minimnya lapangan pekerjaan, menambah sesaknya nafas pejabat untuk bekerja keras dan bertindak serius dalam menangani maraknya pengangguran di Kab. Sumenep.
Hal tersebut di sampaikan, Aminullah, pegiat sosial yang saat ini tinggal di Kab. Sumenep,
Menurutnya, kebijakan Bupati Sumenep, seharusnya meniru kecerdasan Albert Camus seorang Filsuf asal Prancis yang hidup ditengah – tengah masyarakat miskin saat itu.
Kebijakan Pemerintah yang menekan dinilai sangat tidak terhormat bagi masyarakat tertindas, sehingga memicu gejolak dan reaksi yang berseberangan, polemik ini dipicu karena hukum yang memberatkan masyarakat miskin.
Seharusnya, kata Amin, Bupati Sumenep lebih pro rakyat terhadap Masyarakat Miskin, bukan malah bekerjasama dengan kebijakan pemerintah yang korup. Kilahnya
” Seorang pencuri jangan langsung dihakimi bersalah, selidiki dulu, alasan mereka mencuri, bisa jadi. mengambil haknya lewat orang lain, karena kebutuhan istri dan anaknya dirumah yang sedang kelaparan”
Apakah Bupati Kab. Sumenep tidak merasa berdosa, melihat masyarakatnya miskin dan tertindas, menjalani hari-hari perih penuh kelaparan, jerit dan tangis mereka tak dapat ditahan.
Sementara Dinsos P3A hanya menerima laporan terkait program bantuan pemerintah, padahal banyak yang tidak tepat sasaran dan lemahnya pengawasan. Tudingnya
Amin juga mengatakan, setidaknya Bupati menggerakkan sektor pertanian Kab. Sumenep, melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP)
” Di dalam satu desa pasti ada tuan tanah, ada pemilik tanah sedang, ada yang sama sekali tidak memiliki tanah, ini adalah atensi Bupati untuk menggerakkan pola-pola indah dalam kepemimpinannya”
Dikatakan Amin, Dinas DKPP tidak boleh lemah dalam mengakomodir jumlah petani di Kab. Sumenep, sebab 27 Kecamatan dan 330 Desa yang ada hampir rata-rata petani dan nelayan, tapi kok masyarakatnya masih mengeluh miskin ya. Ungkapnya
Amin menilai kerja pemerintah dinilai tidak fokus dan serius dibidang pertanian, sehingga berdampak kepada semakin meningkatnya angka kemiskinan di Kab. Sumenep. Pungkasnya (fay)





